Quote

Telan saja semuanya sendirian yaa, Nduk. Bukankah di waktu yang lalu juga kau sudah terbiasa seperti itu? Sendirian dalam waktu-waktumu yang luang. Tersenyum, Nduk. Pakai topengmu. Jangan pikirkan orang-orang yang sibuk itu.

Image

[Review] Pulang by Leila S. Chudori

foto

Pulang – Sebuah Novel

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

“Paspor dicabut, berpindah negara, berpindah kota, berubah pekerjaan, berubah keluarga.. Segalanya terjadi tanpa rencana. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri.” – Dimas Suryo

Saya setuju dengan pepatah yang mengatakan bahwa membaca dapat membawamu pergi menjelajahi waktu. Sebagai anak yang masih berusia 5 saat Indonesia mengalami pergolakan politik yang begitu panas pada tahun 1998, buku ini–walaupun berupa fiksi–sedikit banyak telah membuka mata saya mengenai apa yang terjadi di Indonesia pada masa itu. Pergolakan ekonomi, politik, praktik KKN, rasialisme, dan upaya penggulingan sang jenderal yang telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun sedikit banyak telah diceritakan di buku ini. Lewat apa yang terjadi pada Dimas Suryo, Hananto Prawiro, dan ketiga temannya–Nugroho, Tjai, dan Risjaf–saya pun seperti ikut larut dalam suasana pada tahun 1965, saat begitu banyak orang yang tiba-tiba hilang entah kemana, orang yang tiba-tiba ditembak dan diculik oleh entah siapa. Sebagai seorang eksil politik Indonesia–Dimas, Tjai, Nugroho, dan Risjaf–terpaksa harus meninggalkan tanah air mereka dan hidup berpindah-pindah negara sampai akhirnya pada Agustus 1982 mereka berkumpul di Paris dan mendirikan sebuah restoran bernama ‘Tanah Air’. Mereka menyebut diri mereka sebagai “Empat Pilar Restoran Tanah Air”.

Tak melulu tentang pergolakan politik, novel ini pun bercerita tentang cinta segitiga yang tak biasa pada dua zaman yang berbeda. Dimas Suryo dan Hananto Prawiro dengan Surti Anandari. Lintang Utara–puteri Dimas–dengan Narayana Lafebvre dan Segara Alam. Rasanya saya akan menghancurkan imajinasi kalian tentang bagaimana indah dan rumitnya cinta mereka kalau saya menceritakan bagian ini.

‘Pulang’ dipenuhi dengan surat-surat yang menambah apik jalan cerita. Gaya bahasa serta alur yang dipilih pun dikemas dengan baik sehingga mudah untuk memahami setiap kejadian yang digambarkan. Mengambil latar di tempat berbeda yaitu Indonesia dan Paris, ‘Pulang’ adalah novel yang tepat untukmu yang ingin mengetahui apa arti dari sepenggal kata “pulang”.

Rindu

Pernahkah kau merindukan seseorang dengan teramat sangat tapi tak bisa berbuat apa-apa selain menangis?

Seolah tak ada celah untuk menjadi lemah. Dulu, Bapak mengajariku untuk tidak menangis di depan Mama, aku tidak boleh menitikan air mata depan adik-adikku. Mama, aku tahu, sudah lama melakukan ini. Tak pernah aku melihatnya menangis sedih, seberat apa pun masalah yang ia hadapi, sebesar apa pun rindu yang ia rasakan. Walau terkadang runtuh juga tembok tinggi yang ia bangun itu, sesekali di sela takbir di setiap hari raya, atau di setiap doa yang ia panjatkan selepas sholat malam, kristal-kristal bening itu menggenang di pelupuk matanya..

Dan malam ini, sekali ini saja, aku ingin runtuh. Terlalu besar rindu ini, Pak. Tidak ada kesanggupan aku untuk menahan. Akan kuhabiskan dan akan aku tabung lagi rindu-rinduku. Maaf karena aku tak se-kokoh itu.

Akan aku lukis lagi senyum di wajahku esok pagi, Pak. Aku bahagia sebagaimana kau menginginkan aku untuk bahagia. Terima kasih. Aku menyayangimu, dan akan selalu.

 

Di malam yang hening.

Saat aku selalu mengingat dan merindukanmu, Pak.

Putri kecilmu,

Anna.

Hello

Hai.

Selamat karena kamu telah berhasil menemukan alamat blog-ku

Belum kutulis apa-apa tentang kamu di sini

Beri aku waktu. Biar kuminta salinan-salinan doa itu kepada Tuhanku

Apa yang kau baca di sini, hanyalah serpihan dari kisahku yang lalu

🙂

Terima kasih karena telah menemukanku

Surat Untuk Februari : Bagian I

Bandung, 25 Januari 2016
Teruntuk kau, Tuan Ufuk Timur.

Halo, Tuan. Bagaimana kabarmu? Sedang gelap atau terang kah langit di tempatmu hari ini? Masih kau perjuangkan kah mimpimu? Ah, rasanya banyak sekali pertanyaan yang jawabannya hanya ingin aku dapatkan darimu. Pun pertanyaan tentang “Siapa lelakimu, Ann?”. Tuan, biasanya akan ada Pak Pos yang mengantarkan suratku untukmu. Surat sampai ke rumahmu lalu kau membukanya di kamar—di bawah hiasan burung-burung kertas yang menggantung, lalu kau membacanya. Entah dengan atau tanpa senyum. Kali ini tidak akan ada Pak Pos yang mengantarkan surat untukmu, Tuan. Biarkanlah mereka yang melihat ini membacakan #suratuntukfebruari yang bukan hanya untuk Februari, tapi juga untukmu.

Tuan, tak bolehkah aku menjadi jahat dengan merebutmu dari Nona yang segera akan menjadi Nyonya-mu? Tuan, harus kah aku memenjarakan rindu yang lagi-lagi hanya untukmu?

Terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku. Dan dari dirimu lah aku inginkan jawabnya datang. Belum pernah aku mengatakan ini. Aku menyayangimu, Tuan Ufuk Timur. Akan selalu.

Salam dariku,
Yang datang namun tak pernah tinggal.