FILOSOFI NASI PADANG 2.0

Aku kira membela agama Allah itu tidak perlu dengan turun ke jalan sampai membuat kericuhan, menebar ketakutan dan mengujar kebencian. Islam itu ramah, islam itu penuh kasih sayang. Tidakkah cukup bagimu Rasul sebagai teladan? Saat diludahi ia tidak marah, saat dibenci ia malah datang bersilaturahmi. “Tapi kan saya bukan Rasul! Jadi wajar dong kalau gak kayak Rasul.” Barangkali akan ada yang beranggapan seperti itu. Saat kita tidak bisa meniru cara salatnya yang bikin kaki sampai merekah, cara taubatnya yang berpuluh-puluh kali dalam sehari, kita kan bisa meniru dari hal yang kecil-kecilnya. Bahkan hal yang paling remeh-temeh dari Rasul aja bisa kita jadikan teladan. Cara rasul tidur, cara bangun, dan cara makan.
Bukankah kita bisa makan nasi padang, menikmati enaknya rendang tanpa harus menjadi suku Minang? Artinya apa? Kita tidak harus menjadi Rasul untuk bisa meniru kebiasaannya, meniru akhlaknya, meniru cara hidupnya. Cukuplah jadi dirimu sendiri, yang mengamalkan nilai baik Rasul pada dirimu, menghadirkan ia dalam tingkah laku dan hidupmu.
Dan ingatlah, kalau kita makan nasi padang setiap hari selama puluhan tahun, hal itu tidak serta merta membuat kita disebut orang Minang. Pun dengan ibadah kita yang sehari 1000 kali, ngaji kita yang sehari 10 juz, tidak akan mengubah kita menjadi Rasul. Jadi, jangan bersikap sebagai seseorang yang merasa pantas menilai baik-buruk, beriman-tidak beriman, benar-salah kepada orang lain. Bukankah kita ini sama-sama makhluk Allah? Saat ada sekelompok orang yang menganggap islam adalah agama teroris, mungkin bukan islamnya yang salah, tapi kita;manusianya.
Bersikaplah layaknya seorang muslim yang mencintai Allah dan Rasulnya, juga mengasihi sesama makhluk Allah. Kalau mau membela agama Allah, lakukan mulai dari diri sendiri, dari dalam hati sendiri, perbaiki daging yang segumpal itu. Cari dan pelajari ilmunya, tuhan kita Allah, junjungan kita Nabi Muhammad, yang suka muncul di TV itu, yang suka teriak-teriak itu, manusia biasa. Sama seperti kita, jadi jangan menuhankan mereka. Mereka tidak selalu benar, mereka bisa saja keliru. Tapi Allah itu MahaBenar, Rasul itu Maha Baik. Tidak akan pernah salah.
Love islam, and never leave it. ^^

Advertisements

Perjalanan Menuju Lautan #1

Allah itu baik. Mempertemukan kita, membiarkan kita melakukan kesalahan, dan akhirnya membuat kita belajar.
Segala sesuatu ada di tangan Allah. Dan hanya kepada-Nya lah kita harus meminta. Allah membiarkan kita mencintai seseorang, lalu … Allah balikkan hati kita. Agar kita memahami, bahwa tak ada yang lebih layak mendapatkan hati dan cinta kita selain daripada Allah dan Rasul-Nya.
Sebuah pertemuan tentu selalu dalam “pengaturan” Allah. Ia selalu mempunyai tujuan di balik segala keputusan yang Ia berikan terhadap makhluknya. Entah pada akhirnya kita yang berubah karena bertemu orang lain atau kita yang mengubah orang lain. Yang jelas, sebuah pertemuan yang baik adalah yang di setiap perjalanannya akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah.
Begitu pula sesuatu yang niscaya. Sebuah kepergian, kematian, atau segala sesuatu yang memisahkan. Sudah Allah buat skenarionya sedemikian rupa, untuk akhirnya membuat kita mendekat kepada-Nya. Untuk membuat kita bergantung hanya kepada-Nya.
Allah itu sayang sama kita.

Jangan pernah menyerah.

Memulai Cerita di Jawa Tengah

Beberapa minggu lalu saya memutuskan untuk sejenak keluar dari zona aman dan nyaman. Pergi mengunjungi beberapa teman dan sanak saudara di provinsi lain, Jawa Tengah. Dengan berbekal restu dari Mama, saya pun berangkat.

Menyambung tali silaturahmi itu perlu, menjadi yang terakhir dalam empat perkara yang disebutkan oleh Rasulullah yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga; setelah sebelumnya Rasul menyebutkan beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukannya, menegakkan salat, dan membayar zakat. (HR. Bukhari)

Sampai hari ini terhitung sudah 23 hari saya tidak berada di kota kecil bernama Purwakarta, tempat Mama dan kedua adik saya menetap. Perjalanan selama 23 hari ini masih akan bertambah karena saya baru akan kembali ke Purwakarta dalam beberapa hari ke depan.

Ada banyak sekali hal yang saya temui dan rasai dalam perjalanan ini. Saya akan ceritakan dalam tagar #ceritadijawatengah.

Foto di ruas jalan tol Semarang menuju Yogyakarta

Ibu Hebat dan Anak-anak Sepi

Ibu adalah pekerja hebat. Banyak waktunya habis di kantor dan mengurusi pekerjaan. Pulang ke rumah, Ibu berbicara tentang betapa sibuknya ia hari ini di kantor, mengurusi dokumen ini, mengajukan itu dan ini. Kadang, di lain waktu, Ibu sibuk bergabung dengan Kawan-kawannya. Pergi ke tempat makan dan rekreasi. Melepas stress setelah seminggu bekerja, katanya. Ibu bebas pergi sendirian. Anak-anak di rumah saja, asal diberi uang. Yang satu pergi dengan pacarnya, satu lagi sibuk dengan rokok. Ibu tidak peduli, atau barangkali Anak-anak yang tidak peduli. Mereka kehilangan perekat, Ayah telah mati.
Suatu hari Ibu baru dapat uang. Katanya ia ingin membelanjakan uang itu untuk pakaian, Ibu pergi dengan Teman-temannya. Karena mengejar kereta pagi, Ibu lupa kebiasaannya mengaji. Katanya, buru-buru, kereta pergi sebentar lagi. Maka ibu pergi. Membawa uang. Lupa bahwa anak-anaknya juga butuh Ibu. Tapi Ibu tidak peduli, yang penting sudah diberi uang, maka sisanya ia berpikir tentang diri sendiri.
Kadang Anak-anak berpikir, apakah Ibu pernah dengan semangat bercerita tentang Anak-anaknya kepada teman kantornya. Seperti Ibu selalu semangat bercerita tentang pekerjaan kepada Anak-anaknya. Entahlah. Toh selama ini saat pulang ke rumah, Ibu selalu datang dengan keluhan di tempat kerja. Barangkali soal keluhannya terhadap Anak-anak juga lah yang dicerirakan kepada Teman-temannya. (Itu pun kalau memang Ibu suka bercerita soal Anak-anak)

Anak-anak sadar bahwa mereka tidak bisa memilih dan protes kepada Tuhan kenapa dilahirkan di sebuah keluarga yang A, B, C. Seperti pula sebuah keluarga tidak dapat memilih, anggota baru seperti apa yang mereka inginkan. Maka, Anak-anak tak pernah mencoba pergi. Mereka selalu mencoba untuk berbakti. Karena katanya surga ada di telapak kaki Ibu.

Menjelang Ramadhan

Pak, sebentar lagi ramadhan. Sudah 4 atau 5 tahun rasanya Anna tidak mengunjungi rumah Bapak. Tapi Anna selalu percaya, doa yang tulus akan selalu sampai, dari mana pun Anna mendoakan Bapak. Ramadhan kali ini adalah ramadhan ke-16 tanpa Bapak. Tapi kami selalu menghadirkan Bapak di hati kami, tak hanya saat ramadhan, pun saat-saat lain yang memang seharusnya Bapak ada; makan malam, syukuran di rumah, atau selesai salat wajib. Kami selalu mengingat Bapak. Dengan doa.
Anna enggak tahu sekarang rumah Bapak seperti apa. Mungkin penuh ilalang, mungkin menyempit karena tempat Bapak tinggal sekarang adalah tanah yang bergerak dan lembab. Tapi semoga rumah Bapak di sisi Allah selalu jadi rumah terbaik untuk Bapak. Jauh dari siksa, jauh dari kengerian neraka. Aamiin Yaa Allah.
Anna cuma mau bilang, kalau Anna kangen Bapak. Selalu kangen. Anna mau es krim di hari Sabtu. Semoga Bapak tenang di sana, yaa. Anna selalu berdoa untuk Bapak.
May 24, 2017 (14:29)

Negeri Mimpi

Aku memimpikan sebuah negeri yang jauh. Yang damai dan sejuk. Pagi yang dipenuhi suara kicau burung, malam yang tenang dengan langit bertabur bintang. Ada peluk, senyum, dan ciuman Ibu di awal dan akhir aku menjalani hari. Juga cerita-cerita tentang betapa masa kecilku dipenuhi dengan keajaiban. Cerita soal apa saja.

Aku hidup di sebuah negeri yang mulai kacau. Yang kaya pengetahuan tapi miskin toleransi. Pagiku dipenuhi teriakan Ibu, katanya kaus kakinya hilang satu. Malam yang sunyi, dengan suara kipas angin pinjaman tetangga. Lagi-lagi dipenuhi teriakan Ibu. Katanya sekarang ia kehilangan baju, esok Sabtu dan ia akan tamasya dengan teman kantornya. Ah, Bu, kita selalu di sini, tapi aku tak mengenalmu. Begitu pula kau. Tak mengenal siapa aku.

Aku memimpikan sebuah negeri yang jauh. Jauh. Jauh. Di mana keindahan diciptakan di bawah kaki seorang Ibu. Ah, Bu, bagaimana bisa aku menggapai tempat itu tanpa bantuanmu. Kakimu sibuk melangkah. Sedang aku kesulitan memapah tubuhku sendiri..