Ibu Hebat dan Anak-anak Sepi

Ibu adalah pekerja hebat. Banyak waktunya habis di kantor dan mengurusi pekerjaan. Pulang ke rumah, Ibu berbicara tentang betapa sibuknya ia hari ini di kantor, mengurusi dokumen ini, mengajukan itu dan ini. Kadang, di lain waktu, Ibu sibuk bergabung dengan Kawan-kawannya. Pergi ke tempat makan dan rekreasi. Melepas stress setelah seminggu bekerja, katanya. Ibu bebas pergi sendirian. Anak-anak di rumah saja, asal diberi uang. Yang satu pergi dengan pacarnya, satu lagi sibuk dengan rokok. Ibu tidak peduli, atau barangkali Anak-anak yang tidak peduli. Mereka kehilangan perekat, Ayah telah mati.
Suatu hari Ibu baru dapat uang. Katanya ia ingin membelanjakan uang itu untuk pakaian, Ibu pergi dengan Teman-temannya. Karena mengejar kereta pagi, Ibu lupa kebiasaannya mengaji. Katanya, buru-buru, kereta pergi sebentar lagi. Maka ibu pergi. Membawa uang. Lupa bahwa anak-anaknya juga butuh Ibu. Tapi Ibu tidak peduli, yang penting sudah diberi uang, maka sisanya ia berpikir tentang diri sendiri.
Kadang Anak-anak berpikir, apakah Ibu pernah dengan semangat bercerita tentang Anak-anaknya kepada teman kantornya. Seperti Ibu selalu semangat bercerita tentang pekerjaan kepada Anak-anaknya. Entahlah. Toh selama ini saat pulang ke rumah, Ibu selalu datang dengan keluhan di tempat kerja. Barangkali soal keluhannya terhadap Anak-anak juga lah yang dicerirakan kepada Teman-temannya. (Itu pun kalau memang Ibu suka bercerita soal Anak-anak)

Anak-anak sadar bahwa mereka tidak bisa memilih dan protes kepada Tuhan kenapa dilahirkan di sebuah keluarga yang A, B, C. Seperti pula sebuah keluarga tidak dapat memilih, anggota baru seperti apa yang mereka inginkan. Maka, Anak-anak tak pernah mencoba pergi. Mereka selalu mencoba untuk berbakti. Karena katanya surga ada di telapak kaki Ibu.

Menjelang Ramadhan

Pak, sebentar lagi ramadhan. Sudah 4 atau 5 tahun rasanya Anna tidak mengunjungi rumah Bapak. Tapi Anna selalu percaya, doa yang tulus akan selalu sampai, dari mana pun Anna mendoakan Bapak. Ramadhan kali ini adalah ramadhan ke-16 tanpa Bapak. Tapi kami selalu menghadirkan Bapak di hati kami, tak hanya saat ramadhan, pun saat-saat lain yang memang seharusnya Bapak ada; makan malam, syukuran di rumah, atau selesai salat wajib. Kami selalu mengingat Bapak. Dengan doa.
Anna enggak tahu sekarang rumah Bapak seperti apa. Mungkin penuh ilalang, mungkin menyempit karena tempat Bapak tinggal sekarang adalah tanah yang bergerak dan lembab. Tapi semoga rumah Bapak di sisi Allah selalu jadi rumah terbaik untuk Bapak. Jauh dari siksa, jauh dari kengerian neraka. Aamiin Yaa Allah.
Anna cuma mau bilang, kalau Anna kangen Bapak. Selalu kangen. Anna mau es krim di hari Sabtu. Semoga Bapak tenang di sana, yaa. Anna selalu berdoa untuk Bapak.
May 24, 2017 (14:29)

Negeri Mimpi

Aku memimpikan sebuah negeri yang jauh. Yang damai dan sejuk. Pagi yang dipenuhi suara kicau burung, malam yang tenang dengan langit bertabur bintang. Ada peluk, senyum, dan ciuman Ibu di awal dan akhir aku menjalani hari. Juga cerita-cerita tentanf betapa masa kecilku dipenuhi dengan keajaiban. Cerita soal apa saja.

Aku hidup di sebuah negeri yang mulai kacau. Yang kaya pengetahuan tapi miskin toleransi. Pagiku dipenuhi teriakan Ibu, katanya kaus kakinya hilang satu. Malam yang sunyi, dengan suara kipas angin pinjaman tetangga. Lagi-lagi dipenuhi teriakan Ibu. Katanya sekarang ia kehilangan baju, esok Sabtu dan ia akan tamasya dengan teman kantornya. Ah, Bu, kita selalu di sini, tapi aku tak mengenalmu. Begitu pula kau. Tak mengenal siapa aku.

Aku memimpikan sebuah negeri yang jauh. Jauh. Jauh. Di mana keindahan diciptakan di bawah kaki seorang Ibu. Ah, Bu, bagaimana bisa aku menggapai tempat itu tanpa bantuanmu. Kakimu sibuk melangkah. Sedang aku kesulitan memapah tubuhku sendiri..

Berkaca Pada Cermin Yang Buram

Lima menit berlalu. Aku sedang berpikir tentang dari mana ceritanya harus kumulai. Tentang ini,perasaanku, pada diriku sendiri. Juga tentang sepi dan ketakutanku. Biar aku coba.

***

Adalah aku, anak perempuan pertama dari 3 bersaudara. Besar dalam keluarga yang ‘sibuk’. Ibu adalah pekerja kantoran yang cukup sibuk. Pergi pagi dan pulang dengan lelah, biasanya datang, ngobrol sebentar, masuk kamar, lalu tidur. Begitu seterusnya sampai hari  Jumat. Sabtu, Ibu terkadang lebih memilih untuk pergi dengan teman-temannya, katanya cuci mata, lelah dengan kerja. Hari minggu Ibu memilih untuk berolahraga, juga dengan teman-teman atau anak tetangga. Hanya sedikit waktu yang aku miliki untuk mengobrol dengan Ibu. Yang aku lihat, Ibu adalah ia yang aku cari saat aku ingin beli tas, atau saat ada surat pembagian rapot, adalah yang aku cari saat aku sedang membutuhkan uang. Ayah adalah seorang pekerja pemerintahan, hanya 8 tahun waktu yang aku miliki untuk menjadi anak Ayah. Karena setelah itu, Ayah dipanggil Tuhan. Kata Paklik dan Bulik, Ayah dipanggil karena Ayah adalah orang yang baik. Iya, aku tahu Ayah baik karena ia sering membelikanku es krim, juga cokelat dan permen. Selain itu, aku tidak tahu. Apakah di luar sana Ayah adalah baik atau tidak. Satu lagi yang aku tahu tentang Ayah, dari 5 kewajiban salat yang guru agamaku ajarkan, hanya Maghrib yang sering Ayah lakukan. Sisanya entah, mungkin aku yang tak melihat, atau memang Ayah yang tak pernah salat. Begitulah aku hidup bertahun-tahun dalam keluargaku. Dua adikku laki-laki, mereka tidak pernah mendapat didikan dari laki-laki dewasa seperti Ayah. Adik pertamaku yang pernah merasakan didikan Ayah, itu pun tidak lama, hanya sampai usia 7 tahun. Ayah yang tiada, Adik yang belum mengerti apa-apa, dan Ibu yang sibuk bekerja membuat aku tumbuh menjadi anak perempuan yang gemar menyendiri. Aku suka sepi. Kadang ramai hanya aku sukai saat di pasar malam. Malam yang ingar dan memiliki sedikit keceriaan, namun gelap dan pengap.

Saat ini usiaku sudah tidak tergolong belia, dua puluh empat tahun aku menghirup dunia. Tapi aku hanya tahu sedikit saja tentang isinya. Aku yang sedari kecil diajarkan untuk selalu baik dalam nilai Matematika dan IPA, selalu berusaha menghapal saat ujian lalu setelah itu kadang selesai. Yang aku tahu, Ibu akan senang kalau aku memiliki nilai yang baik, Ibu kadang acuh pada waktu malam yang aku gunakan untuk belajar. Yang Ibu inginkan adalah aku yang dapat ia banggakan di depan teman-temannya. Yang sekolah di SMA favorit, yang lulus sebagai cum laude, dan turut aktif dalam organisasi, dan sebagainya dan sebagainya. Aku hanya ingin Ibu senang. Jadi saat aku kuliah dulu, aku selalu berusaha untuk menjadi baik dan aktif berorganisasi. Ada harapan lain sebetulnya, aku sedang berusaha untuk menjadi aku yang periang, yang ceria, dan yang terbuka. Aku berhasil. Tapi juga sekaligus selalu gagal saat aku kembali ke rumah. Ruang-ruang yang bisu, obrolan yang tak hangat, dan tatap yang tak pernah benar-benar tertuju pada masing-masing mata selalu membuatku kembali merasa sendiri, sepi. 

Aku ingin bercerita tentang satu hal yang menurutku cukup pribadi. Tentang, pengetahuanku soal agama (?). Aku tahu kalau solat itu adalah tiang agama, adalah ibadah yang paling pertama ‘dinilai’ saat kita mati. Dulu aku belajar salat dari guru ngajiku. Katanya wudhu itu seperti ini, salat itu seperti ini, dan itu, dan ini. Di rumah, Ibu selalu terlihat senang melihat aku pandai mengaji, salat, dan menghapal doa-doa. Syukurlah, Ibu senang. Saat di rumah, aku selalu merasa baik-baik saja tentang pengetahuan agamaku yang seperti itu. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan seorang teman yang begitu membuatku kagum. Adalah dia, seseorang yang datang dari tempat kecil negaraku, seorang periang yang ruangan-ruangan rumahnya tak pernah sepi, selalu ada obrolan dan kehangatan di meja makan, di ruang TV, juga dikelilingi dengan teman-teman yang juga mengagumkan. Aku tak ingin sebetulnya membuat perbandingan-perbandingan. Tapi bukankah untuk dapat menilai harus ada hal yang diperbandingkan? Biar aku tulis seperti di atas saja dulu. Sisanya biar hanya aku yang tahu. Berhari-hari, berbulan-bulan, aku semakin dibuat kagum olehnya. Pada suatu malam, ia sedang bercerita tentang satu hal. Peperangan dan sifat kenabian pada suatu zaman. Aku bertanya dan terus bertanya, juga berumpama, dan air matanya adalah jawab yang paling membuatku merana. Ia menangis, katanya apakah benar bahwa aku tidak tahu tentang kisah-kisah yang sedang ia ceritakan. Aku menggeleng. Dan ia menangis. Sulit bagiku untuk tak menyalahkan diriku, dan Ibuku, dan Ayahku, dan keluargaku untuk apa yang tak aku ketahui, tak aku dapatkan. Sejak saat itu, aku selalu merasa tak pantas berteman dengan seseorang seperti dia. Sekaligus aku merasa harus sudah lebih banyak mencari tahu tentang ini dan itu. Baru kali ini aku takut akan sepi, takut akan ditinggalkan (walaupun pada akhirnya akan, oleh kematian).

Maaf harus kuceritakan ini padamu. Aku hanya ingin kau mengetahui di rumah seperti apa aku dibesarkan. Jangan kutuk aku atas ketidaktahuanku saat ini, kutuklah aku saat aku menyerah dan ingin kalah. Aku akan terus mengubah apa yang kurang, apa yang belum. Aku tak ingin bercermin pada kaca yang buram. Semoga kau tabah, menemani dan membimbingku di sebelah.

Quote

Telan saja semuanya sendirian yaa, Nduk. Bukankah di waktu yang lalu juga kau sudah terbiasa seperti itu? Sendirian dalam waktu-waktumu yang luang. Tersenyum, Nduk. Pakai topengmu. Jangan pikirkan orang-orang yang sibuk itu.

Image

[Review] Pulang by Leila S. Chudori

foto

Pulang – Sebuah Novel

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

“Paspor dicabut, berpindah negara, berpindah kota, berubah pekerjaan, berubah keluarga.. Segalanya terjadi tanpa rencana. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri.” – Dimas Suryo

Saya setuju dengan pepatah yang mengatakan bahwa membaca dapat membawamu pergi menjelajahi waktu. Sebagai anak yang masih berusia 5 saat Indonesia mengalami pergolakan politik yang begitu panas pada tahun 1998, buku ini–walaupun berupa fiksi–sedikit banyak telah membuka mata saya mengenai apa yang terjadi di Indonesia pada masa itu. Pergolakan ekonomi, politik, praktik KKN, rasialisme, dan upaya penggulingan sang jenderal yang telah berkuasa selama lebih dari 30 tahun sedikit banyak telah diceritakan di buku ini. Lewat apa yang terjadi pada Dimas Suryo, Hananto Prawiro, dan ketiga temannya–Nugroho, Tjai, dan Risjaf–saya pun seperti ikut larut dalam suasana pada tahun 1965, saat begitu banyak orang yang tiba-tiba hilang entah kemana, orang yang tiba-tiba ditembak dan diculik oleh entah siapa. Sebagai seorang eksil politik Indonesia–Dimas, Tjai, Nugroho, dan Risjaf–terpaksa harus meninggalkan tanah air mereka dan hidup berpindah-pindah negara sampai akhirnya pada Agustus 1982 mereka berkumpul di Paris dan mendirikan sebuah restoran bernama ‘Tanah Air’. Mereka menyebut diri mereka sebagai “Empat Pilar Restoran Tanah Air”.

Tak melulu tentang pergolakan politik, novel ini pun bercerita tentang cinta segitiga yang tak biasa pada dua zaman yang berbeda. Dimas Suryo dan Hananto Prawiro dengan Surti Anandari. Lintang Utara–puteri Dimas–dengan Narayana Lafebvre dan Segara Alam. Rasanya saya akan menghancurkan imajinasi kalian tentang bagaimana indah dan rumitnya cinta mereka kalau saya menceritakan bagian ini.

‘Pulang’ dipenuhi dengan surat-surat yang menambah apik jalan cerita. Gaya bahasa serta alur yang dipilih pun dikemas dengan baik sehingga mudah untuk memahami setiap kejadian yang digambarkan. Mengambil latar di tempat berbeda yaitu Indonesia dan Paris, ‘Pulang’ adalah novel yang tepat untukmu yang ingin mengetahui apa arti dari sepenggal kata “pulang”.